Doublet Antena QRP

IMG_0145

Di acara JARF kemarin saya menjumpai YD2FTCRio, seorang penggiat QRP dari Lokal Gombong-Jawa Tengah di tenda “Bodoler”, sebuah komunitas yang sangat aktif dalam eksperimen kegiatan amatir radio dengan memanfaatkan berbagai barang yang sudah tidak berdaya guna di sekitarnya. Om Rio adalah orang yang membentuk dan membuat Komunitas Bodoler yang begitu fenomenal, hingga tulisan ini diturunkan anggotanya sudah sekitar 7000-an.  All about Komunitas Bodoler bisa diintip di https://www.facebook.com/groups/bodolanradio80/.  Selamat datang di Jakarta, Mr. President!
rio
Nah ini dia, YD2FTC bersama YD1XAN, diacara JARF 6-7 Agustus 2016. Foto by YD1XAN

Nah, ditenda Bodoler itulah beliau memberikan cindera mata untuk saya berupa kabel tweanlead 300 Ohm. Asyeeeeek….!!.  Kabel ini dulu dipakai oleh engkong-engkong kita untuk difungsikan sebagai kabel penyuap antena TV. Jama dahulu kala, konon kabarnya belum dikenal secara umum kabel coaxial 75 ohm. Tentunya saya riang gembira alang kepalang mendapatkan hadiah ini. Lha kok pas gitu, kebetulan kabel ini memang lagi saya butuhkan untuk menggantikan kabel coax diantena Dipole QRP. Jadi memang betul, silaturahmi akan menambah rejeki. Tengkyu Mr. President!

Sekarang mari kita ikuti, proses pemanfaatan kabel tweanlead tersebut. Pada masa itu, disebutkanlah bahwa jenis open wire adalah jenis kabel yang mempunyai losses rendah dibandingkan kabel jenis coaxial yang kita kenal pada masa sekarang ini. Dengan konfigurasi yang sederhana, open wire (orang juga nyebutnya, “ondo munyuk”) bisa menjadikan sebuah antenna yang perlu kita tengok dan dipilih. Sebagai seseorang yang berkutat dengan QRP, losses menjadikan sebuah isu yang penting bagi saya.

SKEMA NYA
Perhatikan skema yang dicomot dari eMbah Gugel diatas. Itu adalah rangkaian skema antena doublet, sebuah antena yang memang dirancang unresonance pada frekuensi tertentu. Namun dengan menggantikan sisi kabel penyuap ke  Ladder Line atau “Ondo Munyuk” (hayo, mana Munyuknya coba…) akan menjadikan antena ini mampu bekerja multiband. Hebat to…! Sebenarnya Doublet antena ini sudah sering saya gunakan untuk QRP dilapangan dengan hasil yang sangat mengagumkan.

Untuk bisa bekerja dari 40 meterband – 10 meterband maka saya menggunakan panjang sisi horisontalnya adalah 1/2 lamda pada frekuensi kerja band terendah. Jadi kalau dihitung sesuai rumus dari para pendahulu, total panjang antena adalah 143:7 = 20.42 meter. Anda tidak perlu harus benar-benar presisi untuk masalah ukuran ini. Dari beberapa kitab kuno bahkan disebutkan dengan panjang 65 feet – 75 feet bisa digunakan untuk 40 meterband – 10 meterband.  Tentunya disini kita membutuhkan penyesuai impedance sebelum masuk ke radio. Ada di skema bukan?IMG_0146

Proses pembuatan dan segala “tetek mbengek” nya tidak perlu diceritakan ya, karena semua basic saja. Yang terpenting adalah lakukan treatment yang benar di setiap sambungan yang ada. Terlebih pada posisi feedpoint. Ikat kabel tweanlead agar tidak ‘mlorot’ saat dipasang. Disini saya menggunakan wire ties saja, wong adanya itu di kotak Doraemon. Sampeyan mau pakai tali tambang atau tali rapia juga boleeeeh…. Terserah mau kreasi bagaimana!

Antena doublet layak sekali di coba bagi anda yang doyan “ngebrik” wira-wiri dengan power ala kadarnya (QRP Portable) seperti saya. Dengan efisiensi yang tinggi (jelas lah, kan ndak ada trap loading apapun), penginstalan yang mudah (tinggal ‘ngerek’ ke tiang/pohon), juga mampu bekerja multiband tanpa harus khawatir dengan SWR tinggi. Ayo..ayo, siapa mau cobak..?!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: