BICYCLE QRP PORTABLE

IMG_0093Menganut asas nekat, hari ini saya bertekat untuk melakukan field day QRP ala kadarnya dan sendirian dengan menggunakan peralatan QRP yang sudah disiapkan jauh jauh hari.
Transceiver FT-817 yang selama ini menjadi impian sudah di tangan, dan saatnya untuk digunakan dalam QRP portable. Walau pastilah banyak yang mencibir akan kegiatan QRP ini namun apa lacur, saya sudah kadung cinta dengan nge-brik menggunakan daya rendah. Makanya pas bangetlah dengan FT-817 ini karena maksimal hanya 5 watt output power.

Peralatan pendukung lainnya adalah

wire antenna dipole yang akan dikerjakan di 40 meterband, Balun 1:1 yang katanya harus di selipin di feed point (ngikut aja deh…), dan SWR meter untuk membantu setup di lapangan. Dan yang pastinya semuanya adalah homebrew alias bikian sendiri dengan konsep ngawur-ngawuran…

 IMG_0110

Sebagai supply power disini saya menggunakan Lead Acid Batrey 12 Volt 7A keluaran dari PANASONIC. Bukan apa, saya memilih merk ini karena bisa dipastikan lebih awet dibandingkan merk dari China maupun dari antah brantah. Terus terang nih, untuk mendapatkan LCA batrey ini mesti googling dulu…

Mode yang mau saya pakai adalah SSB alias nggedabrus bin nyonthong saja, namun tetap saya lengkapi dengan mini keyer untuk radio RACAL. Eh, siapa tahu ada station penggemar kode morse yang muncul walau sebenarnya pesimis. Penggemar CW di 40 meterband sekarang jarang yang muncul, tapi yo itu tadi, siapa tahu mak benduduk ada penampakan.

IMG_0106Nah, sepertinya gak asyik kalau semua perlengkapan tadi tidak dimasukan ke dalam box. Disamping supaya lebih ringkas, tentunya untuk melindungi radio plus batrey yang harganya bisa dibilang tidak murah. Untuk case ini saya milih pelican case (sak jan nya sih merknya krisbow). Tahan banting, water proof namun agak menambah beban sedikit. Tapi masih worth it lah daripada radio kita rusak ketika lagi handling di lapangan.

Gunting, isolasi tape, kenur, alat tulis dan beberpa komponen pendukung sudah disiapkan pula untuk melancarkan strategi di lapangan. wes, pokoknya lengkaplah dan saatnya ngonthel ke lokasi………

IMG_0104

Lokasi saya pilih di sebuah Danau yang berada di kawasan Tangerang Kota dan mudah dicapai dengan menggunakan sepeda onthel kesayangan. Estimasi waktu sekitar 1 jam untuk mencapai lokasi Danau ini, Danau Situ Bulakan. Menurut orang tua dulu, katanya kalau kita mancar dari lokasi yang penuh dengan air, semacam danau atau di tepi pantai maka daya pancar kita akan lebih efisien. Dan ini cocok sekali untuk run QRP dibawah 5 watt. Jadi akan saya buktikan apakah benar atau tidak cerita dari masa lalu ini…. let’s go…

Dengan kaos bertuliskan “Jejak Petualang”, slayer merah buat ikat kepala, celana pendek serta sepatu menghantarkan saya untuk mancal sepeda menuju ke lokasi. Tentunya tas gemblok (daypack) merk eiger yang saya beli 8 tahun lalu di Balikpapan, sudah nangkring di punggung saya. Tas isi peralatan GO KIT QRP ini lumayan berat karena ada Lead Acid Batrey nya. Tapi masih okelah buat dibawa dan gak bakalan bikin bengkak pundak kok.

IMG_0096Sengaja saya ambil jalur melewati jalan aspal karena memang itu jalan yang mudah di akses. Satu jam ngonthel, sampailah dilokasi. Namun hati ini gak bisa menolak ketika melihat pedagang kelapa muda di pinggir jalan. Ya udah, saya putuskan berhenti dulu dan mampir minum es kelapa muda, langsung dari cangkangnya… eh, apa ya namanya. Sambil ngobrol sekedarnya sama si ibu pedagangnya, saya habiskan sampai tuntas dan cukup di tebus dengan 6000 rupiyah saja.

Perjalanan, berlanjut. Dan langsung saya cari posisi yang pas buat mendirikan antenna serta station QRP. Ternyata di lokasi ini banyak juga para pemancing yang sedang asyik masyuk nyari ikan (moso janda?). Jalan sepanjang pinggir Danau Situ Bulakan sangat parah, namun ini yang membuat saya semangat untuk meng-eksplore lokasi ini. Dan setelah berjalan agak lama, akhirnya saya putuskan untuk mendirikan QRP station di sebuah lokasi yang view nya mantap, gak banyak orang, jauh dari lalu lintas kendaraan serta banyak pohon.

IMG_0083Tas gemblok di buka, dan pertama yang saya rakit adalah wire antenna dipole. Memang antena ini sudah disiapkan dari rumah, jadi tinggal pasang saja. Tapi tetap harus dilakukan proses triming dan tuning di band kerja, 40 meterband. Tali kenur pancing segera dikeluarkan. Ujungnya di ikat di balun homemade yang tentunnya ini adalah feed point dengan kabel penyuap coax RG-58 saja. Ujung tali kenur satunya lagi saya ikat dengan potongan ranting, lalu dilemparkan ke atas pohon dengan harapan bisa nyanthel di dahan yang agak tinggi. Dengan sedikit perjuangan, akhirnya lemparan saya bisa nyangkut juga di dahan pada ketinggian sekitar 2 meter dari tanah. Yah, lumayan lah daripada harus manjat manjat segala. Karena efek grafitasi, tentunya ranting tadi akan jatuh kebawah dan saya tinggal narik kenur supaya feed point bisa ke atas dahan. Seperti orang ngerek bendera itu lho…

pekerjaan pertama beres, sekarang tinggal menarik ujung kanan dan kiri antenna. Konstruksi sengaja saya buat menjadi inverted V, karena ini yang paling mudah. setelah di tarik kanan dan kiri dengan bantuan ranting sebagai “anchor” supaya bisa tegang itu wire, proses selanjutnya adalah tuning antenna…

IMG_0075Yaesu FT-817 dikeluarkan dan dipasang SWR meter untuk proses tuning antenna. Ternyata didapatkan SWR terendah 1:1 di frekuensi 6.5 Mhz, sedangkan saya inginnya di 7.1 Mhz. Jadi kepanjangan dong broo…. so, sesuai teori harus dilakukan pemotongan wire. Karena saya gak bawa meteran, makanya dipakai prinsip nekat bin ngawur, dipotong dengan ukuran “kilanan”, atau bahasa indonesianya di jengkal pakai jari tangan. Setelah 3 kali jengkalan dan pemotongan dilakukan, SWR bisa didapatkan 1:1 pada 7.1 Mhz. Yessss….!!! saatnya untuk QSO dengan QRP!

Di 7.075.0 Khz kebetulan ada YB0TS dari Bekasi yang sedang QSO. Pada tail ending saya mencoba masuk, dan tak dinyana beliau bisa mendengarkan dengan report 5&7. Setelah beberapa saat ragchewing dengan beliau, saya pamit untuk QSY mencari station lain. Nah di 7.080.0 Khz sedang ramai juga. Pada jeda yang tepat saya mencoba masuk. Ternyata YC7RYG dari Pangkalan bun, Kalimantan bisa mendengarkan walau report 3&4 kadang 4&5. Namun ini menjadi sebuah penambah semangat tersendiri, dengan power kurang dari 5 watt masih bisa solid copy pada jarak yang begitu jauh. Kesempatan berikutnya saya QSO dengan Om Harry, YB2KK dari semarang. Beliau tidak percaya kalau saya menggunakan antena inverted V yang sedemikian rendahnya. Namun inilah efek magisnya bekerja di dekat air walau dengan QRP… he he hee…

IMG_0088Tiba-tiba saya mendengar Om Jayusman, YC0BPU/1 yang lokasinya tidak jauh dari posisi saya memancar, sekitar 2 kilometer. Kembali pada tail ending saya mencoba memanggil Om Jayus. Beliau sangat apresiasi dengan kegiatan yang saya lakukan dan kami sempat ragchewing beberapa menit. Beliau sebenarnya sangat minat untuk menyusul ke lokasi. Saya berharap Semoga suatu saat bisa operate QRP di lapangan bersama-sama.

Hari mulai beranjak Maghrib, jam di tangan saya menunjukan pukul 17.30 WIB. Propagasi semakin membuka yang membuat saya malas untuk menyelesaikan field day ngawur-ngawuran ini. Dengan cepat saya bergeser ke 7.075.0Khz lagi. Mencoba CQ QRP, dan ada panggilan balik dari YC4RDG dari Bengkulu Utara. QSO dengan beliau cukup lumayan lama walau signal yang saya terima hanya 4&5. Tak lama ada Om Urip, YC1YU dengan memberikan report 5&9 untuk saya. Tak heran karena memang kami tidak terlalu jauh jaraknya. Sempat pula saya QSO dengan YB4GU. Beliau memberikan report 5&5, sebuah report yang begitu menyenangkan untuk station QRP.

IMG_0112

Setelah dirasa cukup, saya menutup dan menurunkan station QRP dengan hati yang sangat senang. Kegiatan field day ala kadarnya ini sangat menyenangkan sekaligus memberikan hasil yang luar biasa dan dibatas pemikiran semula. Jadi kini tidak ada alasan lagi kalau mau run QRP dilapangan. Selama station kita setup dengan benar, pemilihan lokasi yang tepat, penentuan band dan waktu kerja yang benar maka contact dengan ratusan hingga ribuan kilometer bisa tercapai dengan hanya 5 watt SSB.

4 responses

  1. Luar biasa….
    Menginspirasi banget…

    1. Terima kasih, semoga sedikit bisa bermanfaat…🙂

  2. Gaya bahasa yang lincah, segar, dan khas membuat pengalaman yang diceritakan semakin renyah dicerna. Apalagi sambil membaca ditemani secangkir kopi hangat. Memberi inspirasi positif untuk mencoba sebuah pengalaman yang kalau dipikirkan ternyata memberi kepuasan tersendiri dalam dunia amatir.

    1. Hallo Om Andri….
      Terima kasih feedback nya… mudah2an bisa memberikan sedikit ide buat teman2… bahwasanya amatir radio itu hobby yang menarik dan didalamnya banyak beragam “jurusan” yang bisa kita explore… enjoy with hobby…🙂
      73′

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: