Berburu Sumber Noise

Image

Soerabaja, 21 Djanoeari 2014…. sekedar pengoesir djenoeh…

Hari ini yang harusnya berangkat ke offshore terpaksa di cancle sehubungan cuaca di laut jawa tidak bagus. Informasi terakhir dari dispatcher PHE WMO mengatakan bahwa ombak mencapai 4 meter. Jadi dengan sangat terpaksa travelling ke Rig Java Star di cancle. Akhirnya kembali lah ke Hotel Bisanta, Surabaya…… Berawal dari sanalah akhirnya keisengan berburu noise ini terjadi.

Saya yakin kalau anda semua adalah hobby sekali dengan kegiatan ‘ngethuprus di udara. Nggedabrus ngalor ngidul sambil nyolder, atau mungkin ada juga yang memang kesukaannya cuma monitoring saja, sampai telinga di tempelin di speaker sementara jari-jari asyik mendial knob varco di radio kempitan, seperti saya🙂. Berharap menemukan signal atau suara aneh yang barangkali bisa di tangkap oleh reveiver.

Tapi, keasyikan kita akan sangat terganggu jika signal yang kita endus tertutup oleh derau/noise. Nah, hari ini saya lagi coba ingin iseng dengan berburu sumber noise di dalam kamar hotel. Sebenarnya tadi sempat saya mendengar signal CW di 21.040.0 Khz, stasiun DX yg lagi CQ CQ. Sayangnya, signalnya masih QSB dan kadang tertutup derau/noise. Demikian pula di 7 Mhz, saya mencoba nguping di tengah derau yang lebih kuat masih terendus beberapa rekan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang lagi ragchewing. Saya akan mencoba mencari sumber derau ini.

Image

Tentunya senjata harus dipersiapkan. Gambar diatas adalah senjata yang digunakan untuk memburu sumber derau. Radio kempitan dan sebuah antenna loop sebagai sniffer siap bertempur. Receiver di set pada posisi ‘local’ agar signal yang kuat lebih tereduksi sehingga bisa di baca pada strength meter. Istilah gampangnya attenuator. Mode menggunakan AM, dan saya berburu derau yang menimbulkan gangguan di band amatir saja yaitu 1.8 Mhz, 3.8 Mhz, 7 Mhz, 10 Mhz, 14 Mhz, 10 Mhz, 18 Mhz, 21 Mhz, 24 Mhz dan 28 Mhz.

Berikut sumber sumber derau di dalam kamar hotel yang bisa saya endus dengan tingkat kekuatan yang berbeda-beda:

Image

TV Jadul yang masih menggunakan tabung. Saya sendiri juga heran, di hotel ini masih menggunakan TV jenis lama, padahal lebih hemat energi TV jaman sekarang yang LED/LCD. Ketika di endus, TV ini benar benar mempunyai tingkat sumber derau yang cukup mengganggu di sepanjang rentang Band. Jadi sebaiknya hindari menyalakan TV jenis beginian ketika lagi asyik nge-gombal di udara. Dijamin signal pojokan anda yang kembang kempis akibat propagasi yang tidak mendukung bisa lenyap tak berbekas di telan oleh derau/noise ini.

Image

Charging tab, handphone maupun segala jenis gadget. Ini menimbulkan derau yang cukup mengganggu di band-band bawah/low band. Tapi di hi-band gangguan derau tidak terlalu besar. Bunyinya unik lho,”krukk…krukk,,,kruukk” begitu. Apalagi kalau anda sambil menerima signal celluler, di jamin suara,”krekooottt…krekoooottt!!!” akan ikut mengiringi di receiver anda.

Image

Yang ini lebih ganas lagi bro.. AC alias Angin Cendela. Eh, Air conditioner ding…!! Apalagi ketika motor di outdoor ini sedang berputar. Dijamin telinga kita lama lama akan mengalami gangguan pendengaran. Tingkat derau yang di hasilkan sangat besar sekali bahkan di atas gangguan derau TV jadul diatas tadi. Oleh karena itu, kalau anda mau pasang antenna sebaiknya jauhkan dari si AC ini.

Image

Lampu Hemat Energi. Selain diburu para homebrewer (mau diambil toroidnya) lampu ini juga di cari oleh emak-emak karena lebih hemat penggunaan listriknya. Tapi siapa sangka, ternyata lampu jenis ini juga tetap menimbulkan derau yang mengganggu di semua rentang band. Namun masih mendingan lah di bandingkan dengan jenis neon yang pakai balast.

Jadi gimana dong, apakah harus mematikan semua sumber-sumber derau diatas tadi ketika lagi mau nggedabrus? Bisa juga bisa tidak. Sekarang yang pasti adalah :

  1. Hindari sumber-sumber derau tersebut saat instalasi antenna.
  2. Pasang filter di receiver anda, siapa tahu bisa mereduksi gangguan tersebut.
  3. Ganti semua peralatan rumah tangga anda dengan model baru, biasanya model baru lebih baik karena tidak terlalu menimbulkan gangguan derau yang besar. Tapi jika langkah ini anda ambil tentunya butuh biaya yang besar dan jadinya tidak bijak.
  4. Pindah lokasi ke daerah yang sama sekali tidak ada sumber gangguan. Bisa di gunung, tengah sawah atau laut juga boleh🙂
  5. Ada saran lagi dari anda?

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: