NOSTALGIA NGEBRIK DI RADIO FM

pcb sc-197

Gb1. Ilustrasi Kit Ronica SC-197

Kalau mengingat hal ini, serasa hidup melayang kembali ke tahun 1992. Masa yang begitu menyenangkan saat masih tinggal di kampung halaman. Sebagai seorang pelajar SMA di sebuah  kabupaten kecil di jawa tengah, untuk mendapatkan radio HT sekelas IC-2N sangatlah susah. Bukan susah mencari radionya, tapi harganya yang tidak masuk di kantong seorang pelajar. Jadi untuk mensiasati hobby komunikasi paling hanya lewat intercom yang saya buat dari hasil modif radio AM/FM portable. Namun sayangnya jarak yang hanya antar tetangga ini membuat saya tidak puas, apalagi tiap malam selepas belajar kegiatan nguping di radio SW terus berlangsung. 100 meter band menjadi area favorit saya saat itu.

Suatu saat ketika lagi putar putar dial cari gelombang radio di band FM kok saya mendapatkan sebuah station broadcast yang lain dari biasanya. Signal cukup besar namun tidak terlalu mantap disertai dengan dengungan. Kadang agak geser geser. Semakin penasaran, saya tune terus di gelombang tersebut. Nah, tak lama terdengar suara penyiarnya yang lagi lagi aneh, he hehe… Dia kirim lagu dan menyapa orang orang. Eh, disebutkanlah nama desa tempat dia memancar dan ternyata letaknya di sebelah desa saya. Sejak itu setiap ada kesempatan untuk monitoring pasti saya lakukan. Ternyata asyik juga mendengarkan siaran fm gelap tersebut.

pcb depanSuatu hari sepulang sekolah saya sempatkan menuju ke kota dan langsung ke sebuah toko elektronika, Libra kalau tidak salah (Mungkin teman-teman yang berasal dari purworejo masih ingat nama toko ini?). Tengak-tengok di etalase kit elektronika, saya lihat ada sebuah kit yang bertuliskan “Pemancar Mini FM 88 – 108 Mhz”  yang dikeluarkan oleh Ronica dengan type SC-197. Tanpa pikir panjang saya beli kit tersebut dengan harga Rp. 4.500,- . Harga yang menurut saya cukup lumayan mahal saat itu.

sc-197

gb2. Skema Pemancar Mini FM Ronica SC-197

Sampai di rumah, langsung saya coba. Dengan segala keterbatasan pengetahuan tentang transmiter saya umpan kit tersebut dengan catu daya 3 Ampere buatan sendiri. Output antenna saya umpankan juga ke antena telescopic bekas. Radio receiver merek Polytron PSC-37KVB saya on kan dan putar dial mencari signal pemancar tersebut. Sejak saat itu kegiatan ngoprek pemancar terus dilakukan. Entah berapa kali saya pura-pura sakit agar tidak masuk sekolah hanya karena ingin ngoprek pemancar FM🙂 PERHATIAN : Buat adik adik pelajar jangan di tiru ya perbuatan ini.

Ronica SC-197 ini mempunyai design yang sangat sederhana namun lumayan untuk dijadikan sarana belajar pengetahuan transmiter VHF. Dengan oscilator yang masih menggunakan L untuk pergeseran frekuensi dan dengan konstruksi 3 tingkat menggunakan jenis transistor NPN C-930 atau variannya cukup mumpuni dan mudah di handle bagi new comer. Namun demikian, problem masuk TV ke tetangga saat itupun pernah saya alami. Bahkan saat itu lagi ramai-ramainya acara ketoprak sayembara di TVRI Jogja sedang berlangsung. Suara saya dan dengungan signal akibat power supply yang tidak rata masuk ke televisi hitam putih di seluruh kampung. Akibatnya sangat buruk, genteng rumah suatu malam di lempar kerikil saat saya sedang tuning dan testing. Ha ha ha ha…. Pengalaman yang menarik.

pcb belakangNamun dari segala problem tersebut akhirnya saya mengenal apa itu arti grounding, SWR, Antenna, impedance kabel, Frekuensi dan sebagian besar tentang pengetahuan praktis dunia transmisi radio. Tidak bosan pula selalu setia mendengarkan diskusi teman teman breaker yang sedang berkomunikasi membahas pemancar FM dan seluk beluknya. Dan uniknya, seiring waktu akhirnya saya tahu siapa yang melempar kerikil ke genteng rumah simbok yang akhirnya mereka menjadi sahabat kental saya sekaligus menjadi partner dalam eksperimen pemancar FM setiap malam.🙂

Sebagai bentuk apresiasi, saya ucapkan terima kasih kepada teman teman breaker FM medio tahun 1992 – 1995 di Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Saya coba list seingat saya ya, rekan-rekan breaker FM pada saat itu yang sering saya ajak berkomunikasi dan kopdar. Mungkin salah satunya adalah anda?

  1. Agus, Suroso, Bambing & almarhum joko setiawan (Desa Karangwuluh, Desaku🙂 )
  2. Amat genter, Gunawan, Suryadi (Desa Brondongrejo)
  3. David, Mbah Bejo (Desa Popongan)
  4. Yadi (Desa Keduren)
  5. Mas Budi (Purwodadi, ini paling ‘njlegur’ pemancarnya di terima saat itu)
  6. Pak Ardath (Kutoarjo, Ini juga besar dan sudah stereo saat itu)
  7. Pak Hurry (Kaligesing)

Sebenarnya masih banyak lagi, tapi seiring jalannya waktu banyak yang lupa namanya. Oh ya, waktu itu saya menggunakan handle name “GOTREX”. Dengan pemancar mini Ronica SC-197 berbasis C-930 dengan final 4 buah sudah cukup melanglang buana hingga ke kota Wates, Kulon progo, Kebumen, Wonosobo, dan perbatasan Magelang. Antenna saat itu menggunakan folded dipole ( Kami menyebutnya antenna ‘Eblek’). Terakhir saya menggunakan yagi 4 elemen dengan self supportnya bambu menjadikan semakin berkibar nama “GOTREX” di udara Purworejo. Itu cerita saya, bagaimana dengan anda?

Note : semua gambar hanyalah ilustrasi dan saya ambil dari beberapa blog yaitu http://www.3lektronika.blogspot.com, http://www.elektronika.web.id dan http://www.kit-electronic.blogspot.com .

8 responses

  1. ceritanya mantap Pak … bikin imajinasi melayang ke suasana main pemancar dengan teman-teman lingkungan dekat dan jauh.

    1. he he… masa yg mengasyikan memang masa itu… bahkan sekarang saya lg coba merakit lg pemancar 80 meter band AM… sekedar ingin mengenang masa lalu ..🙂

      1. raju november osar

        sy jd ingat 6l6 12gb7 6v6, dll ex. tv tabung yg dijadikan pemncar. sempat tersetrum dc 900v catu daya 807 pemancar 100m ditahun 1983 -1991 yg lewat.

      2. he he…. serem juga main tegangan tinggi yaaaa. safety first🙂

  2. Sama dg pak lik gw. sekitar thn 1994 sampai 2006 kalau ngebrik di SW sinyal nya menutupi tv dan radio. bahkan toa di masjid juga ada suara pak lik gw yg lg ngebrik.

  3. begitulah kalau kita main2 dengan RF memang harus siap dengan berbagai efek… namun itu yang akan membuat kita semakin lebih kreatif ….🙂

  4. mantap pak … teringat masa sma jadinya …. low saya kokernya saya ganti pake tuner biar enak pindah frekwensinya n gk usah pake obeng ….

    1. thanks mas Yanu… pada masa itu belum ditemukan pakai tuner.. sedangkan tuner FM itu sendiri adalah sebuah barang mewah bagi kami (pelajar SMA) pada masa itu… he he, kalau sekarang luar biasa perkembangannya… sudah pada pakai PLL atau DDS…. salam ngoprek…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: