Awal Mengenal Dunia Amatir Radio (1)

Mengawali hobby di amatir radio ternyata mempunyai cerita yang menarik untuk masing masing orang. Nah, ini ceritaku, mana ceritamu :

Tahun 1985…. Jangankan listrik, TV saja yang hitam putih tidak punya. Apalagi untuk menuju ke amatir radio. Jauh dari cita cita saat itu. Namun yang masih teringat dan melekat adalah, dirumah yang berdindingkan anyaman bambu dan lantai tanah ada sebuah radio penerima AM yang saya sudah lupa mereknya. Apalagi bagi seorang anak yang saat itu masih SD. Mana tahu merek dan jenis gelombangnya. Yang pasti saat itu adalah kami sekeluarga bisa mendengarkan siaran radio, Kethoprak, wayang kulit dan lagu lagu berbahasa jawa. Masih teringat hingga sekarang, lagu itu berjudul “ROMO ONO MALING”. Tiap petang lagu itu diputar oleh salah satu station radio AM di kota kami, RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) Purworejo, Jawa tengah. Ditahun 80an seperti itu belum dikenal gelombang FM. Semuanya masih AM.
Kadangkala ada siaran selain RSPD namun signalnya sangat kecil, dan seingat saya ada salah satu saudara pakde saya memasang kabel ditambah lempengan logam yang kemudian di koneksikan ke antena telescopic radio tersebut sehingga siaran radio bisa diterima dengan baik. Pelajaran pertama yang bisa saya ambil saat itu, bahwa agar penerimaan baik maka harus dipasang kabel dan lempengan tersebut. Semakin tinggi kok semakin baik, dan rupanya itulah cikal bakal saya mengetahui arti sebuah antenna.

Beranjak semakin besar (masih di range Sekolah Dasar) hobby monitoring makin lama makin suasah untuk di hilangkan. Bisa disebut, tiada hari tanpa mendengarkan radio. mulai dari sandiwara radio seperti TRINIL, BRAMA KUMBARA, MAK LAMPIR, BUTIR BUTIR PASIR DI LAUT hingga kethoprak dan wayang kulit sudah menjadi menu wajib harian. Bangun tidur, pulang sekolah, mau tidur bahkan belajarpun selalu terdengar suara radio. Dengan radio yang saya sudah lupa merknya dan didukung batre ABC besar 4 buah, makin hari makin kesengesem untuk mendengarkan siaran radio. Bagi saya menarik sekali, karena tanpa ada media perantara kita bisa mendengarkan suara orang bicara dan lagu lagu.

Suatu hari selepas sekolah kembali saya dengarkan radio. Dan kebetulan radio lama sudah di ganti dengan radio type baru yang mempunyai fasilitas Tape Recorder. Masih ingat merknya, NELSON. Di radio tersebut terdapat saklar FM, MW dan SW. Saya tidak tahu apa fungsinya waktu itu, yang jelas untuk mendengarkan siaran favorit saklar  harus di posisikan ke MW. Pernah saya switch ke FM tapi kok hanya suara ngosos (noise) saja. Belum terpikirkan saat itu kalau di FM belum ada radio yang siaran di alokasi tersebut. Apalagi di kota kecil tempat saya tinggal. Pindah lagi Ke SW, saya putar dial dan mendengarkan begitu banyak siaran radio yang berbahasa inggris. Hari demi hari selalu monitor dan scan dan akhirnya mengenalah yang disebut BBC london, ABC, NHK, RRI dan station station siaran radio lainnya. jadi menu wajib untuk mendengarkan siaran siaran luar negeri berbahasa indonesia, utamanya BBC London. yang paling sya sukai ketika acara surat pendengar dan belajar bahasa inggris. Dari sinilah lama kelamaan mengenal 80 meter band. Bagaimana kisahnya? Tunggu kisah berikutnya🙂

Bersambung…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: